Lima aspek perubahan kurikulum di SMK

Kurikulum sekolah menengah kejuruan (SMK) mengalami perubahan. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung penerimaan lulusan SMK.

Direktur Jenderal Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto mengatakan, setidaknya ada lima aspek yang diubah dalam kurikulum SMK.

Baca juga: Rangkul Dyandra Academy, Kemendikbud Latih 500 SMK

Pertama, mata pelajaran akademis dan teoritis dikontekstualisasikan agar menjadi profesional.

“Misalnya matematika dan bahasa Indonesia menjadi matematika terapan dan bahasa Indonesia terapan,” ujarnya saat meluncurkan situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat (15 Januari 2021).

Kedua, kata Wikan, magang atau magang industri minimal satu semester atau lebih.

Ketiga, ada konten pembelajaran terkait proyek dan ide kewirausahaan kreatif selama 3 semester.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Keempat, SMK menawarkan mata kuliah pilihan selama 3 semester, misalnya mahasiswa program studi teknik mesin dapat mengambil mata kuliah pemasaran.

Aspek terakhir adalah kegiatan wajib belajar yang dilakukan setiap semester, seperti pembangunan desa dan pengabdian masyarakat.

Tahun lalu, Wikan juga memasukkan paket 8+1 dalam program SMK CoE 2020.

Program Competence Center for Excellence (PK) akan diluncurkan pada tahun 2021, yaitu pengembangan lebih lanjut SMK CoE dengan mengintegrasikan perguruan tinggi vokasi untuk memajukan SMK.

Baca juga: Lulusan dengan Kualifikasi Profesi, Kemendikbud: SMK Jangan Diremehkan
Gairah untuk pelatihan kejuruan meningkat

Wikan juga menyampaikan bahwa perkembangan pelatihan vokasi pada masa kepemimpinannya menyebabkan pemahaman dan semangat yang lebih besar.

Baik dari pelatihan vokasi maupun dari dunia usaha dan industri (DUDI).

Hal ini membuktikan implementasi program link-and-match antara vokasi dan DUDI secara nyata dan utuh.

“Karena paket 8+1 dilaksanakan oleh ribuan SMK dan ratusan SMK serta lembaga kursus dan kompetensi (LKP),” kata Wikan.

Selain itu, lanjut Wikan, sikap para kepala satuan pelatihan vokasi Indonesia telah berubah.

Kini, menurut Wikan, mereka lebih terbuka dan berani melakukan gebrakan demi mewujudkan full connection and match.

“Makanya kita akan terus cepat dan pesat meningkatkan pola pikir dan kepemimpinan sumber daya manusia (SDM) untuk diklat vokasi,” kata Wikan.

Baca Juga: Mahasiswa Vokasi Bisa Raih Gelar D2 Lewat Program Fast Track

Tidak hanya lembaga pelatihan vokasi, namun industri juga semakin terbuka untuk menjalin kerjasama dengan lembaga pelatihan vokasi.

LIHAT JUGA :

https://ngelag.com/
https://newsinfilm.com/
https://pengajar.co.id/
https://rumusguru.com/
https://www.atursaja.com/
https://vncallcenter.com/
https://timeisillmatic.com/
https://boutiquevestibule.com/
https://journal-litbang-rekarta.co.id/